TELADAN PEMUDA DI ZAMAN NABI SAW

Image Posted on

TELADAN PEMUDA DI ZAMAN NABI SAW

PEMUDA – Masa muda merupakan masa sempurnanya per­tumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Ia merupakan nikmat besar dari Allah Ta’ala yang akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat kelak. Karenanya, setiap orang harus memanfaatkannya secara optimal dalam amal shaleh guna meraih ridha Allah SWT. Di saat yang sama, masa muda juga penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu. Seorang pemuda banyak mengalami gejolak pikiran dan jiwanya, yang membuatnya mudah terjerumus ke dalam keburukan dan kesesatan yang dibisikkan setan.
Di sinilah tampak jelas peran besar agama Islam. Sebagai petunjuk yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada umat manusia, Islam dapat menjadi pedoman untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat.
Banyak ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW yang mengajarkan agar membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah, dan ge­nerasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang shaleh, insya Allah.

Karakter pemuda ideal dalam al-Qur’an
Karakteristik pemuda telah di sebutkan dalam al-Qur’an dan hadis. Pemuda dalam al-Qur’an disebut dengan fatan. Misalnya pada surah al-Anbiya ayat 60 tentang pemuda Ibrahim dan pada surah al-Kahfi ayat 13 tentang para pemuda Ashabul Kahfi. Dalam hadis, pemuda sering disebut dengan kata syab. Misalnya dalam sebuah hadis riwayat Bukhari yang menyebutkan bahwa di antara tujuh kelompok yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat adalah pemuda yang tumbuh berkembang dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Imam Abul ‘Ula al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi berkata: “Dalam hadis ini, Rasulullah SAW mengkhususkan penyebutan seorang pemuda karena usia muda adalah masa yang berpotensi besar untuk didominasi oleh nafsu syahwat, disebabkan kuatnya pen­dorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda. Maka, dalam kondisi seperti ini untuk berkomitmen dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah tentu lebih sulit. Dan ini menunjukkan kuatnya ketakwaan dalam diri orang tersebut.”

Generasi muda di zaman Nabi SAW
Dalam perjalanan sejarah, para pemuda selalu me­mainkan peranan penting di tengah masyarakatnya. Merekalah yang menjadi tonggak kebangkitan dan ke­kuatan masyarakat. Demikian pula dalam sejarah Islam. Jika kita telusuri sejarah kebangkitan Islam maka akan kita temukan banyak sekali sosok pemuda luar biasa yang keteladanannya patut dijadikan sebagai contoh. Keberadaan mereka tentu tidak lepas dari bimbingan langsung dari uswah terbaik sepanjang masa, Rasulullah SAW.
Sebagai contoh, sebut saja Ali bin Abu Thalib RA. Cerita tentang keberanian Ali banyak dimuat dalam buku-buku sejarah. Perannya begitu besar dan menentukan, sejak dakwah masih di fase Mekkah hingga Madinah. Ali selalu tampil di barisan depan dalam banyak peperangan penting, mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, Fathu Mekkah, Hunain dan lain sebagainya. “Jangan memulai mengajak berduel, tapi jika ditantang jangan mundur,” begitulah pesan moral luhur sepupu Nabi SAW tersebut.
Setiap diserahi pimpinan pasukan, Ali selalu meng­ingatkan anak buahnya agar jangan sekali-kali balas dendam, membunuh musuh dari belakang, dan membunuh musuh yang sedang luka parah. Ia sendiri memang tidak pernah membunuh musuh yang sudah luka parah dan memerintahkan pasukannya untuk tidak membunuhnya.
Banyak sekali akhlak yang terpuji pada diri Ali. Ia sangat pemberani sebagai pemuda. Di medan perang, dalam banyak pertempuran, Ali sering diserahi bendera Nabi. Dalam perang Khaibar, misalnya, Ali mendapat kehormatan membawa bendera komando untuk me­lumpuhkan kekuatan Yahudi. Sungguhpun begitu, ia sangat lemah lembut terhadap siapa pun, tekun menerima pelajaran Nabi, banyak senyum, dan berkata dengan tutur bahasa yang manis dan fasih. Banyak hal yang diajarkan Rasulullah kepada Ali RA.
Suatu ketika Rasulullah bertanya kepadanya, “Ali, maukah jika aku mengajarkan kepadamu perangai yang berlaku dari dulu dan sekarang?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab Ali. Rasulullah kemudian berkata,

“Berilah orang yang pelit kepadamu, maafkanlah orang yang menzalimimu, dan sambunglah hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu.”
Rasulullah SAW juga mengajarkan kepadanya, “Siapa mempekerjakan tenaga buruh lalu berbuat zalim kepada­nya, dan tidak memenuhi upahnya, akulah musuh orang itu di hari kiamat.”
Riwayat lain menyebutkan bahwa beliau berkata, “Siapa mampu menahan nafsu amarah dan melaksanakan­nya, Allah akan menggantinya dengan keimanan dan keamanan.”
Sosok lain yang patut menjadi contoh adalah orang terdekat dengan Ali, yaitu istrinya sendiri yang juga putri kesayangan Rasulullah SAW, Fatimah az-Zahra. Fatimah adalah anak perempuan ke empat pasangan Rasulullah dan Ummul Mu’minin Khadijah. Fatimah lahir ketika kaum Quraisy merenovasi Ka`bah. Dalam peristiwa ter­sebut, secara aklamasi Rasulullah SAW dijuluki al-Amin (orang yang dipercaya). Fatimah memiliki banyak julukan. Selain yang paling masyhur yaitu az-Zahra, Fatimah juga dijuliki ash-Shiddiqah, al-Mubarakah, ath-Thahirah, az-Zakiyyah, ar-Radhiyah, dan al-Murdhiyyah.
Tidak sedikit riwayat yang menegaskan keistimewaan Fatimah di hati Rasulullah. Di antaranya adalah riwayat yang menceritakan ketika Rasul mengajak keluarganya untuk memeluk Islam, dalam khutbahnya yang masyhur Rasulullah memilih menyebut Fatimah di antara putri-putrinya yang lain. Ketika itu beliau berseru, “Ya Fatimah, putri Muhammad, mintalah padaku apa yang kamu mau. Tapi kelak di hadapan Allah, aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu.”
Dalam peristiwa lain, ketika Rasulullah mendengar sebagian kelompok Muslim merasa keberatan anggota keluarganya ada yang dijatuhi hukuman potong tangan karena terbukti telah mencuri, Rasulullah SAW mengeluarkan pernyataan yang sangat tegas: “Apabila Fatimah putri Muhammad mencuri, maka pasti akan aku potong tangannya.” Dua peristiwa ini merupakan bukti begitu dekatnya Fatimah di hati sang ayah.
Apakah dengan demikian Fatimah menjadi anak manja dan besar kepala? Tidak ada waktu bagi seorang putri Rasulullah untuk bermanja. Bayangkan, di usianya yang baru menginjak 12 tahun Fatimah sudah mengalami embargo ekonomi dan sosial kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin dan para pendukungnya. Selama tiga tahun ia mengalami kelaparan yang sangat hebat dan menyaksikan bagaimana kaum Muslimin menderita karena mempertahankan aqidahnya.
Sesaat setelah lepas dari embargo yang zalim itu, Fatimah harus kehilangan dua orang terdekat dalam keluarganya, yaitu Abu Thalib dan yang paling memilukan hatinya, tentu adalah wafatnya sang bunda, Khadijah. Setelah puas menangis dengan penuh kesabaran ia menggantikan posisi ibunya dalam menyiapkan segala keperluan Rasulullah SAW.
Fatimah, sebagaimana disinggung di atas, adalah anak kesayangan Rasulullah. Sering Rasulullah mengatakan: “Fatimah adalah bagian dariku. Apa yang membuatnya marah maka akan membuatku marah pula.” (HR. Bukhari, Turmudzi, Ahmad, dan Hakim).
Sebaliknya, sebagai anak berbakti, Fatimah selalu berusaha untuk melakukan apa yang membuat ayahnya senang. Mengenai hal ini, peristiwa tentang seuntai kalung yang pernah ia kenakan dan membuat sang ayah marah besar, kemudian ia pun menjualnya demi menyenangkan sang ayah, tentu bisa menjadi contoh.
Sebagai anak, Fatimah az-Zahra rela meninggalkan perhiasan bukan karena haram baginya. Ia tahu mengenakan perhiasan itu hukumnya mubah bagi wanita, tapi ketika ia mengetahui ayahnya tidak menyukainya, maka ia rela meninggalkannya.
Pada saat-saat terakhir hidupnya, Rasulullah sempat membisiki az-Zahra bahwa ia menjadi pemimpin wanita ahli surga. Kesabaran dan keridhaannya dalam menerima apa yang diberikan Allah lah yang membuatnya pantas menyandang gelar wanita terbaik.
Setiap Muslimah mesti belajar dari kepribadian putri Rasulullah ini. Mereka harus menjadikannya sebagai figur dan teladan hidupnya. Tentu masih banyak sekali sosok muda-mudi di masa Rasulullah SAW yang pantas menjadi panutan. Karena mereka pernah hidup bersama Rasulullah dan belajar langsung dari beliau. Merekalah pemuda-pemudi yang bisa menjadi motivasi bagi kita untuk memperbaiki diri.
Kita harus belajar kepada mereka. Terlebih lagi dalam berakhlakul karimah baik kepada Allah maupun dalam muamalah dengan sesama manusia (hablun minallahi wa hablun minannas). Merekalah para pemuda yang memiliki keimanan kuat yang dihiasi dengan akhlak yang baik. Generasi muda hari ini adalah para pemeran utama di masa mendatang, dan mereka adalah pondasi yang menopang masa depan umat ini. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Oleh:Budhi Setiyawan
Peserta Program Kaderisasi Ulama ISID Gontor periode VI
http://www.majalahgontor.net
Foto,ilustrasi

Advertisements

BANGKITLAH INDONESIA BANGKITLAH…!

Image Posted on

BANGKITLAH INDONESIA BANGKITLAH...!

Kepada negara kecil yang pongah seperti Singapura, seharusnya kita berterima kasih dan menjura. Karena Singapuralah, mata kita dipaksa nyalang terbuka setelah sekian lama terlena dan buta. Karena sekian ulah Singapura, kita disadarkan bahwa nama Indonesia bagi mereka kini tidak berarti apa-apa.

Karena bila saja kata Indonesia masih punya mantra, ia akan dihargai selayaknya, seperti nilai panjangnya jarak New York hingga San Francisco. Ditera sepadan sebagai negara yang memiliki penduduk beratus juta.

Lalu, bila beratus juta kita itu tak ada harga di mata warga dan pemerintah Singapura, maka kita semua mereka anggap apa?

Sejujurnya, pada sisi tertentu Singapura bisa menjadi teladan. Hanya dengan membandingkan luas Singapura dengan negeri ini, dan mencermati apa yang dilakukan pemimpin keduanya, kita bisa belajar martabat dan harga diri. Negeri kecil dengan luas seupil itu sadar akan makna mereka sebagai satu negara. Mereka berani bilang tidak bila ‘liyan’ hendak berbuat sekehendaknya atas mereka.

Sebagai pemimpin negara, mereka tahu bahwa mempersoalkan penamaan Usman-Harun di kapal perang negara tetangga itu sungguh niscaya. Sebagai warga di negara yang menerapkan sistem wajib militer, mereka bisa menghormati kedua prajurit gagah berani yang rela mati itu. Bila tidak, buat apa warga terbaik mereka Lee Kuan Yew saat memimpin negara itu menyempatkan diri menabur bunga di makam Usman dan Harun pada kunjungannya di 1973?

Persoalannya, kedua prajurit Indonesia itu pula yang telah membawa serta kematian sekian banyak nyawa warga Singapura. Lalu mereka pun mendakwa kita dan bilang, bukankah kalian mengimani Alquran dan sadar bahwa “Barangsiapa membunuh satu jiwa… maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. (QS Al-Maa’idah: 32)”?

Pada titik kesadaran itulah, para pemimpin Negeri Singa itu tahu, mereka harus mempersoalkan. Tepatnya, harus coba-coba mempersoalkan.

Mereka lupa, bukankah mereka telah membalas dengan menggantung Usman dan Harun dalam sorak sorai warganya? Bukankah–kalau pun mereka memegang erat adat bahwa darah harus dibayar darah dan gigi dibayar gigi, semua impas sudah?

Respons pemerintah dan rakyat Indonesialah kemudian yang menentukan apakah kita memang tetangga terhormat atau tidak. Bila kita membiarkan, atau bahkan mengamini dan mengganti nama di lambung kapal perang itu, jelas sudah, kita tetangga yang yang wajar dilempar sampah tetangga sebelah. Namun bila kita menyatakan,” Uruslah rumah tanggamu sendiri. Karena untuk putra-putra terbaik kami, kami pula yang wajib menghormati,” maka seharusnya mereka pun sadar dan tahu diri.

Senyampang itu, sebaiknya kita sadar bahwa negeri ini sudah berada di tubir jurang. Kita makin tak punya muka di hadapan para tetangga. Kita, barangkali sudah bukan lagi bangsa yang besar.

Lihatlah, tak hanya Singapura yang berkali-kali mempermalukan wajah kita. Setelah Malaysia terus-terusan membunuhi warga negara kita yang bekerja di sana, para TKI; mencaplok Pulau Sipadan-Ligitan dan mengklaim sekian banyak kekayaan budaya Indonesia; negeri seterbelakang Papua Nugini pun sudah mulai berani. Tentara mereka baru-baru ini membakar perahu nelayan warga Indonesia dan memaksa para nelayan itu berjuang menyelamatkan nyawa dengan berenang di arus yang tenagh menggila. Lima orang tenggelam, sementara lima lainnya belum jelas nasibnya.

Lebih dari 40 tahun lewat ‘Asian Drama’, Dr Gunnar Myrdall sudah menyatakan Indonesia sebagai negara lunak (soft state), yakni negara yang rentan bangkrut karena merajalelanya praktik korupsi akibat ketidakmampuan negara mencipta dan menerapkan hukum yang jelas dan tegas.

Kisah 40 tahun lalu itu bahkan kian gampang kita temukan di keseharian. Penduduk miskin masih berbilang juta, perekonomian mencipta kehidupan yang alangkah jomplangnya, sementara kini kita justru heran manakala ada pejabat yang benci korupsi dan menolak makan suap. Bukankah kini kita melihat korupsi ibarat pepatah Yunani, quae fuerant vitia, mores sunt? Yang dulu kita anggap kejahatan itu, kini gampang ditemui di hidup sehari-hari.

Bukankah sikap terlena itu telah membuat negara ini nyaris tergolong negara gagal? Paling tidak, dalam katagorisasi Noam Chomsky, kita gagal bertanggung jawab dalam menjalankan negara, termasuk melindungi kedaulatan dan kekayaan bangsa yang diwarisinya. Kita telah gagal untuk terus menghangatkan sebuah rasa yang agung dalam hati warganya. Rasa kesetiakawanan yang menjadi awal dan sebab terbentuknya negara.

Pemerintah memang ada, tetapi ia gagal menyatukan solidaritas, menumbuhkan kehangatan dan getar kerinduan untuk hidup bersama. Gagal pula meyakinkan warganya untuk berjuang bersama meraih cita-cita.

Bila kata pemikir besar kenegaraan, Ernest Renan, bangsa adalah sebuah sukma yang dicerminkan oleh perasaan cinta akan tempat hidup bersama, barangkali sukma seperti itu kian menipis di dada kita.

Karena itulah, bila kita peduli, seharusnya polah Singapura itu bisa menjadi modal kita menyegarkan rasa kebangsaan kita. Sebab adakah rasa yang lebih hina selain dilecehkan mereka yang secara teori lebih tidak berdaya?

Kita seharusnya marah dan bertanya, mengapa Singapura tega mengabaikan perasaan kita dengan terus melindungi para koruptor yang menyesap habis kekayaan Indonesia?

Tengoklah kembali tulisan Michael backman di The Age, 2006 lalu. Dari sana kita akan mengerti mengapa ekstradisi tak lebih dari sekadar janji. Menurut Backman, pada 2006 saja dana-dana kotor dari Indonesia itu mencapai proporsi 22 persen perekonomian Singapura.

Indonesia juga layak berang, dengan modal pasir-pasir laut yang dikeruk dari perairan Indonesia, Singapura terus memperluas wilayahnya. Padahal, penggalian pasir itu sendiri merusak lingkungan alam Indonesia.

Kementerian Luar Negeri pada 2006 menyatakan, reklamasi yang dilakukan pemerintah Singapura sudah menyebabkan daratan Singapura maju sejauh 12 kilometer dari original base line perjanjian perbatasan Indonesia-Singapura pada 1973. Tentu saja, itu akan memengaruhi wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Silakan tambah dengan banyak hal lain. Tetapi tetap saja, karena polahnya bisa menyadarkan kita, kita layak berterima kasih. Itu pun kalau Indonesia raya masih menggetarkan jiwa kita. [dsy]http://nasional.inilah.com/read/detail/2072567/terimakasih-singapura#.UvyT0H2MPbU

IDENTITAS KEPEMUDDAN DAN REKONSTRUKSI

Image Posted on

Pengertian Pemuda

Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”.
Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19 tahun. Jadi pemuda identik sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dsb.
Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah kontrol diri dalam artian mudah emosional, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri.

Secara hukum pemuda adalah manusia yang berusia 15 – 30 tahun, secara biologis yaitu manusia yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kedewasaan seperti adanya perubahan fisik, dan secara agama adalah manusia yang sudah memasuki fase aqil baligh yang ditandai dengan mimpi basah bagi pria biasanya pada usia 11 – 15 tahun dan keluarnya darah haid bagi wanita biasanya saat usia 9 – 13 tahun.
Pemuda adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani berbagai macam – macam harapan, terutama dari generasi lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena pemuda diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang mengisi dan melanjutkan estafet pembangunan.
Di dalam masyarakat, pemuda merupakan satu identitas yang potensial. Kedudukannya yang strategis sebagai penerus cita – cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya.

Pengertian Sosialisasi

Pengertian sosialisasi mengacu pada suatu proses belajar seorang individu yang akan mengubah dari seseorang yang tidak tahu menahu tentang diri dan lingkungannya menjadi lebih tahu dan memahami. Sosialisasi merupakan suatu proses di mana seseorang menghayati (mendarahdagingkan – internalize) norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga timbullah diri yang unik, karena pada awal kehidupan tidak ditemukan apa yang disebut dengan “diri”.
Dan sosialisasi juga merupakan proses yang membantu individu melalui media pembelajaran dan penyesuaian diri, bagaimana bertindak dan berpikir agar ia dapat berperan dan berfungsi, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
Selain itu Sosialisasi diartikan sebagai sebuah proses seumur hidup bagaimana seorang individu mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang meliputi cara-cara hidup, nilai-nilai, dan norma-norma sosial yang terdapat dalam masyarakat agar dapat diterima oleh masyarakatnya. Berikut pengertian sosialisasi menurut para ahli:
• Charlotte Buhler
Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup, dan berpikir kelompoknya agar ia dapat berperan dan berfungsi dengan kelompoknya.
• Peter Berger
Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.
• Paul B. Horton
Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.
• Soerjono Soekanto
Sosialisasi adalah proses mengkomunikasikan kebudayaan kepada warga masyarakat yang baru.

Internasilasi, Belajar, dan Sosialisasi
Ketiga kata atau istilah tersebut pada dasarnya memiliki pengertian yang hampir sama. Proses berlangsungnya sama yaitu melalui interaksi sosial. istilah internasilasasi lebih ditekankan pada norma-nroma individu yang menginternasilasikan norma-norma tersebut. Istilah belajar ditekankan pada perubahan tingkah laku, yang semula tidak dimiliki sekarang telah dimiliki oleh seorang individu. istilah spesialisasi ditekankan pada kekhususan yagn telah dimiliki oleh seorang individu, kekhususan timbul melalui proses yang agak panjang dan lama.

Proses Sosialisasi
Ada 2 teori proses sosialisasi yang paling umum digunakan, yaitu teori Charles H. Cooley dan teori George Herbert Mead.
Teori Charles H. Cooley lebih menekankan pada peran interaksi antar manusia yang akan menghasilkan konsep diri (self concept). Proses pembentukan konsep diri ini yang kemudian disebut Cooley sebagai looking-glass self terbagi menjadi tiga tahapan sebagai berikut.

” Seorang anak membayangkan bagaimana dia di mata orang lain.”

Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi dan sering menang diberbagai.

“Seorang anak membayangkan bagaimana orang lain menilainya.”

Dengan perasaan bahwa dirinya hebat, anak membayangkan pandangan orang lain terhadap dirinya. Ia merasa orang lain selalu memujinya, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini muncul akibat perlakuan orang lain terhadap dirinya. Misalnya, orang tua selalu memamerkan kepandaiannya.

“Apa yang dirasakan anak akibat penilaian tersebut”
Penilaian yang positif pada diri seorang anak akan menimbulkan konsep diri yang positif pula.Semua tahap di atas berkaitan dengan teori labeling, yaitu bahwa seseorang akan berusaha memainkan peran sosial sesuai dengan penilaian orang terhadapnya. Jika seorang anak di beri label “nakal”, maka ada kemungkinan ia akan memainkan peran sebagai “anak nakal” sesuai dengan penilaian orang terhadapnya, meskipun penilaian itu belum tentu benar.

Peranan Sosial Mahasiswa dan Pemuda di Masayrakat

Peranan sosial mahasiswa dan pemuda di masyarakat, kurang lebih sama dengan peran warga yang lainnnya di masyarakat. Mahasiswa mendapat tempat istimewa karena mereka dianggap kaum intelektual yang sedang menempuh pendidikan. Pada saatnya nanti sewaktu mahasiswa lulus kuliah, ia akan mencari kerja dan menempuh kehidupan yang relatif sama dengan warga yang lain.

Secara tak sadar namun perlahan tapi pasti, para generasi muda dihinggapi dengan idiologi baru dan perilaku umum yang mendidik mereka menjadi bermental instan dan bermental bos. Pemuda menjadi malas bekerja dan malas mengatasi kesulitan, hambatan dan proses pembelajaran tidak diutamakan sehingga etos kerja jadi lemah.
Sarana tempat hiburan tumbuh pesat bak “jamur di musim hujan” arena billyard, playstation, atau arena hiburan ketangkasan lainnya, hanyalah tempat bagi anak-anak dan generasi muda membuang waktu secara percuma karena menarik perhatian dan waktu mereka yang semestinya diisi dengan lebih banyak untuk belajar, membaca buku di perpustakaan, berorganisasi atau mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih positif.
Peran pemuda yang seperti ini adalah peran sebagai konsumen saja, pemuda dan mahasiswa berperan sebagai “penikmat” bukan yang berkontemplasi (pencipta karya). Dapat ditambahkan disini persoalan NARKOBA yang dominan terjadi di kalangan generasi muda yang memunculkan kehancuran besar bagi bangsa Indonesia.

B. Pemuda dan Identitas

Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Pemuda
Pola dasar pembinaan dan pembangunan generasi muda ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Keputusan Menteri Pendidkan dan Kebudayaan nomor : 0323/U/1978 tanggal 28 oktober 1978. Tujuannya agar semua pihak yang turut serta dan berkepentingan dalam poenanganannya benar-benar menggunakannya sebagai pedoman sehingga pelaksanaanya dapat terarah, menyeluruh dan terpadu serta dapat mencapai sasaran dan tujuan yang dimaiksud.

Pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda disusun berlandaskan:
• Landasan Idiil : Pancasila
• Landasan Konstitusional : Undang-undang dasar 1945
• Landasan Strategi : Garis-garis Besar Haluan Negara
• Landasan Histories : Sumpah Pemuda dan Proklamasi
• Landasan Normatif : Tata nilai ditengah masyarakat.
Arah pembinaan dan pengembangan generasi muda ditunjukan pada pembangunan yang memiliki keselarasn dan keutuhan antara ketiga sumbu orientasi hidupnya yakni.
• Orientasi ke atas kepada Tuhan Yang Masa Esa.
• Orientasi dalam dirinya sendiri.
• Orientasi ke luar hidup di lingkungan.
Dalam hal ini, pembinaan dan pengembangan generasi muda menyangkut dua pengertian pokok, yaitu:
• Generasi muda sebagai subjek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang telah memiliki bekal dan kemampuan serta landasan untuk mandiri dan ketrlibatannya pun secara fungsional bersama potensi lainnya guna menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi bangsa.
• Generasi muda sebagai objek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kea rah pertumbuhan potensi dan kemampuan ketingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang melibatkan secara fungsional.

Pengertian pokok pembinaan dan pengembangan generasi muda
Generasi merupakan generasi penerus perjuangan bangsa dan sumber daya insani bagi pembangunan nasional, diharapkan mampu memikul tugas dan tanggung jawab untuk kelestarian kehidupan bangsa dan negara. Untuk itu generasi muda perlu mendapatkan perhatian khusus dan kesempatan yang seluas- luasnya untuk dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik jasmani, rohani maupun sosialnya.
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, terdapat generasi muda yang menyandang permasalahan sosial seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan obat dan narkota, anak jalanan dan sebagainya baik yang disebabkan oleh faktor dari dalam dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Oleh karena itu perlu adanya upaya, program dan kegiatan yang secara terus menerus melibatkan peran serta semua pihak baik keluarga, lembaga pendidikan, organisasi pemuda, masyarakat dan terutama generasi muda itu sendiri.

Arah kebijakan pembinaan generasi muda dalam pembangunan nasional menggariskan bahwa pembinaan perlu dilakukan dengan mengembangkan suasana kepemudaan yang sehat dan tanggap terhadap pembangunan masa depan, sehingga akan meningkatkan pemuda yang berdaya guna dan berhasil guna. Dalam hubungan itu perlu dimantapkan fungsi dan peranan wadah-wadah kepemudaan seperti KNPI, Pramuka, Karang Taruna, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Organisasi Mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi dan organisasi fungsional pemuda lainnya.
Dalam kebijakan tersebut terlihat bahwa KARANG TARUNA secara ekslpisit merupakan wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda yang bertujuan untuk mewujudkan generasi muda aktif dalam pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan bidang kesejahteraan sosial pada khususnya. Salah satu kegiatan Karang Taruna Kelurahan Purwaharja Kecamatan Purwaharja sedang membuat kerajinan bambu yang diolah menjadi aneka macam alat musik seperti suling, angklung dan sebagainya.

Masalah-Masalah Generasi Muda
Berbagai permasalahan generasi muda yang muncul pada saat ini antara lain:
• Dirasa menurunnya jiwa idealisme, patriotisme, dan nasionalisme di kalangan masyarakat termasuk generasi muda.
• Kekurangpastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
• Belum seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia, baik yang formal maupun non formal. Tingginya jumlah putus sekolah yang diakibatkan oleh berbagai sebab yang bukan hanya merugikan generasi muda sendiri, tetapi juga merugikan seluruh bangsa.
• Kurangnya lapangan kerja / kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran /setengah pengangguran di kalangan generasi muda dan mengakibatkan berkurangnya produktivitas nasional dan memperlambat kecepatan laju perkembangan pembangunan nasional serta dapat menimbulkan berbagai problem sosial lainnya.
• Kurangnya gizi yang dapat menyebabkan hambatan bagi perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan badan di kalangan generasi muda, hal tersebut disebabkan oleh rendahnya daya beli dan kurangnya perhatian tentang gizi dan menu makanan seimbang di kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah.
• Masih banyaknya perkawinan di bawah umur, terutama di kalangan masyarakat daerah pedesaan.
• Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi perkawinan dan kehidupan keluarga.
• Meningkatnya kenakalan remaja termasuk penyalahgunaan narkotika.
• Belum adanya peraturan perundangan yang menyangkut generasi muda.
Dan ada juga masalah lain yaitu:
• Kebutuhan Akan Figur Teladan
Remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai-nilai luhur yang berlangsung dari keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar nasihat-nasihat bagus yang tinggal hanya kata-kata indah.
• Sikap Apatis
Sikap apatis meruapakan kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi di masyarakatnya.
• Kecemasan dan Kurangnya Harga Diri
Kata stess atau frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya).
• Ketidakmampuan untuk Terlibat
Kecenderungan untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan uang.
• Perasaan Tidak Berdaya
Perasaan tidak berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk pertama-tama berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah2 masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau ijasah.
• Pemujaan Akan Pengalaman
Sebagian besar tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks pada mulanya berawal dari hanya mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan pandangan yang keliru tentang pengalaman.

Potensi- potensi Generasi Muda
Potensi-potensi yang terdapat pada generasi muda perlu dikembangkan adalah:
• Idealisme dan daya kritis
• Dinamika dan kreativitas
• Keberanian Mengambil Resiko
• Opimis dan kegairahan semangat
• Sifat kemandirian, disiplin, peduli, dan bertanggung jawab
• Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan
• Patriotisme dan Nasionalisme
• Kemampuan menguasai ilmu dan teknologi

Tujuan Pokok Sosialisasi
• Individu harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan kelak di masyarakat.
• Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengenbangkankan kemampuannya.
• Pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
• Bertingkah laku secara selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok ada pada lembaga atau kelompok khususnya dan pada masyarakat umum.

C. Perguruan dan Pendidikan
Mengembakan Potensi Generasi Muda
Negara berkembang masih banyak mendapat kesulitan untuk penyelenggaraan pengembangan tenaga usia muda melalui pendidikan. Sehubung dengan itu negara yang berkembang merasakan selalu kekurangan tenga terampil dalam mengisi lowongan-lowongan pekerjaan tertentu yang meminta tenag kerja dengan keterampilan khusus. Kekurangan tenaga terampil itu terasa manakala negara-negara sedang berkembang merencanakan dan berambisi untuk mengembangkan dan memanfaatkan sumber-sumber alam yang mereka miliki.

Pembinaan dan pengembangan potensi angkatan muda pada tingkat perguruan tinggi, lebih banyak diarahkan dalam program-program studi dalam berbagai ragam pendidikan formal. Mereka dibina digembleng di laboratorium dan pada kesempatan praktek lapangan. Kaum muda memang betul-betul merupakan suatu sumber bagi pengembangan masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pembinaan dan perhatian khusus harus diberikan bagi kebutuhan dan pengembangan potensi mereka.
Cara mengembangkan potensi generasi muda:
• Individu harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan kelak di masyarakat.
• Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya.
• Pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
• Bertingkah laku secara selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok ada pada lembaga atau kelompok khususnya dan pada masyarakat umumnya.

Pengertian Pendidikan dan Perguruan Tinggi
• Pendidkan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan juga merupakan bimbingan eksistensial manusiawi dan bimbingan otentik, agar anak belajar mengenali jatidirinya yang unik, bisa bertahan hidup, dan mampu memiliki, melanjutkan mengembangkan warisan-warisan sosial generasi yang terdahulu.
Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkwalitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan.

Macam-macam pendidikan:

Pendidikan umum
Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pendidikan kejuruan
Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).jenis ini termasuk ke dalam pendidikan formal.

Pendidikan akademik
Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.
Pendidikan profesi
Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.

Pendidikan vokasi
Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).
Pendidikan keagamaan
Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan /atau menjadi ahli ilmu agama.

Pendidikan khusus
Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).
• Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut mahasiswa, sedangkan tenaga pendidik perguruan tinggi disebut dosen.
Menurut jenisnya perguruan tinggi dibagi menjadi 2, yaitu:
Perguruan tinggi negeri
adalah perguruan tinggi yang pengelolaan dan regulasinya dilakukan oleh Negara.
Perguruan tinggi swasta,
adalah perguruan tinggi yang pengelolaan dan regulasinya dilakukan oleh swasta.

Alasan Untuk Berkesempatan Mengenyam Perguruan Tinggi
Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang masyarakat, karena adanya kesempatan untuk terlibat di dalam pemikiran, pembicaraan serta penelitian tentang berbagai masalah yang ada dalam masyarakat.
Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama di bangku sekolah, maka mahasiswa mendapat proses sosialisasi terpanjang secara berencana, dibanding dengan generasi muda lainnya.
Ketiga, mahasiswa yang berasal dari berbagai etnis dan suku bangsa dapat menyatu dalam bentuk terjadinya akulturasi sosial dan budaya.

Keempat, mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise di dalam masyarakat, dengan sendirinya merupakan elite di kalangan generasi muda, umunya mempunyai latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan lebih baik dari keseluruhan generasi muda lainnya. Mahasiswa pada umumnya mempunyai pandangan yang lebih luas dan jauh ke depan serta keterampilan beroganisasi yang lebih baik dibandingkan dengan generasi muda lainnya.

@copyright/ https://ciptadestiara.wordpress.com

REKA BENTUK LOGO BAPEM

Image Posted on Updated on

logo muratara

Reka bentuk logo organisasi pemuda kemasyarakatan murtara BARISAN PEMUDA MURATARA (BAPEM)

BUPATI MURATARA

Image Posted on

BUPATI MURATARA

MURATARA – Drs H Akisropi Ayub SH, MSi yang dulu pernah menjabat sebagai camat di Kabupaten Musirawas dilantik Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sebagai Penjabat Bupati Muratara. Pelantikan dan pengambilan sumpah dilaksanakan di gedung Sasana Bhakti Praja Lantai 3 Kemendagri Jl Medan Merdeka UtaraNo 7 Jakarta Pusa.